Jakarta – PT Eastspring Investments Indonesia resmi meluncurkan produk investasi terbarunya bertajuk Reksa Dana Syariah Eastspring Syariah Income Global Mixed Asset USD (ESIGMA). Produk ini dirancang sebagai solusi strategis bagi investor yang ingin mengelola portofolio dengan kelas efek campuran global sesuai Prinsip Syariah.
Peluncuran Reksa Dana ESIGMA merupakan hasil kolaborasi antara Eastspring Indonesia dan Bank DBS Indonesia sebagai agen penjual, yang menegaskan komitmen kedua institusi untuk menghadirkan solusi investasi yang inovatif dan relevan dengan kebutuhan pasar.
Di tengah potensi penurunan suku bunga global dan meningkatnya optimisme pasar, reksa dana berbasis efek luar negeri menjadi alternatif menarik. ESIGMA hadir dengan pengelolaan aktif dan aset terdiversifikasi lintas sektor serta wilayah, guna memberikan imbal hasil optimal bagi investor. Dengan denominasi Dolar Amerika Serikat, produk ini juga menjadi instrumen syariah global yang cocok bagi investor berorientasi internasional.
Presiden Direktur Eastspring Indonesia, Sulystari, menjelaskan bahwa ESIGMA merupakan inovasi yang menggabungkan strategic asset allocation pada kelas aset global, yaitu saham dan pendapatan tetap, dengan diversifikasi lintas sektor dan geografi.

“Diversifikasi yang baik diharapkan dapat meningkatkan nilai investasi sekaligus mengurangi risiko konsentrasi,” ujarnya.
Produk ini juga memiliki fitur pembagian hasil investasi (dividen) setiap bulan dalam bentuk uang tunai, memberikan fleksibilitas tambahan bagi investor.
Sementara itu, Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk dukungan Bank DBS terhadap nasabah dalam memperluas peluang investasi, baik di pasar domestik maupun regional.
“Produk terbaru ini memperkaya pilihan investasi syariah berbasis dolar AS dan membuka akses ke pasar global, sesuai kebutuhan utama nasabah wealth management,” tuturnya.
Secara komposisi, Reksa Dana ESIGMA akan mengalokasikan sekitar 60% portofolio ke saham global untuk menangkap peluang pertumbuhan, sementara sisanya ditempatkan pada instrumen pendapatan tetap seperti sukuk lokal. Struktur ini menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan stabilitas portofolio, sekaligus memastikan seluruh pengelolaan mengikuti Prinsip Syariah.

