Banten – Sebanyak 20 mantan narapidana kasus terorisme (napiter) di Banten mulai membangun kembali kehidupan mereka melalui pelatihan teknisi Air Conditioner (AC) yang digelar di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Banten, Kecamatan Karangtanjung, Kabupaten Pandeglang.
Program ini menjadi bagian dari proses reintegrasi sosial setelah para peserta menyatakan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta mengakui Pancasila sebagai dasar negara.
Para peserta diketahui merupakan eks anggota Jemaah Islamiyah yang kini berkomitmen meninggalkan paham lama dan memulai kehidupan baru. Kegiatan pelatihan ini diinisiasi oleh Densus 88 dan mendapat dukungan dari PT Astra International sebagai bagian dari upaya pencegahan tindak pidana terorisme sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018.
Dept Head Strategic Business Intelligent PT Astra International, Jaka Fernando, menjelaskan bahwa program ini merupakan kolaborasi berkelanjutan antara Astra dan Densus 88. “Ini merupakan kali keenam pelatihan teknisi AC yang kami selenggarakan bersama Densus 88 untuk para eks napiter dan jaringan teror di Indonesia,” ujarnya, Kamis (30/4).
Ia menambahkan, pelatihan teknisi AC dipilih karena tingginya kebutuhan layanan perawatan dan perbaikan pendingin udara di Indonesia, baik untuk rumah tangga maupun sektor perkantoran.
Dalam pelaksanaan kali ini, sebanyak 19 peserta berasal dari kalangan eks napiter, dengan keterlibatan unsur Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di wilayah Banten. Kolaborasi lintas kelompok ini diharapkan mampu memperkuat interaksi sosial serta mempercepat proses penerimaan kembali di masyarakat.
Selain mendapatkan keterampilan teknis, para peserta juga dibekali perlengkapan servis AC agar dapat langsung bekerja setelah menyelesaikan pelatihan. Program ini dirancang untuk mendorong kemandirian ekonomi sehingga mereka tidak kembali terhubung dengan jaringan lama.
Pelatihan ini turut melibatkan alumni yang telah berhasil, seperti Kusnadi asal Serang dan Kartono dari Bogor, yang kini berperan sebagai asisten pelatih. Secara keseluruhan, program deradikalisasi melalui pelatihan teknisi AC ini telah memasuki angkatan ke-6.
Sementara itu, Densus 88 kini mengedepankan pendekatan lunak (soft approach) dalam penanggulangan terorisme, melalui metode kemanusiaan, dialog, serta pendampingan berkelanjutan bagi individu yang pernah terpapar paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
Pendekatan tersebut dinilai efektif, tercermin dari capaian zero attack dalam tiga tahun terakhir serta menurunnya angka penindakan kasus terorisme. Keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.

