27.6 C
Jakarta
Selasa, Mei 12, 2026
BerandaKATA GAYA HIDUPKESEHATANDinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko

Dinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko

Jakarta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta menaruh perhatian serius terhadap meningkatnya kasus penyakit Lupus di ibu kota. Penyakit autoimun yang kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” itu tercatat mengalami kenaikan jumlah penderita secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes DKI Jakarta, Sri Puji Wahyuni, mengatakan penguatan deteksi dini di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) menjadi langkah penting untuk menekan risiko keterlambatan penanganan pasien Lupus.

Hal tersebut disampaikan Sri dalam webinar peringatan Hari Lupus Sedunia di Jakarta, Senin (11/5).

Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah kasus Lupus yang terdeteksi di rumah sakit maupun FKTP terus mengalami peningkatan. Pada 2023 tercatat sebanyak 192.614 kasus, kemudian naik menjadi 238.954 kasus pada 2024 atau meningkat sekitar 24 persen. Sementara pada 2025, jumlah kasus kembali bertambah menjadi 247.743 pasien.

Sri menilai peningkatan angka tersebut menunjukkan dua hal sekaligus. Di satu sisi, tenaga kesehatan kini semakin mampu mengenali gejala Lupus. Namun di sisi lain, kondisi itu menuntut peningkatan kompetensi tenaga medis di FKTP agar diagnosis dapat dilakukan secara tepat tanpa terjadi under diagnosis maupun over diagnosis.

Dinkes DKI Ungkap Lonjakan Kasus Lupus, Perempuan Paling Berisiko

Lupus sendiri dikenal sebagai penyakit yang sulit dideteksi karena memiliki gejala yang beragam dan kerap menyerupai penyakit lain. Akibatnya, tidak sedikit pasien yang terlambat memperoleh penanganan medis yang sesuai.

Menurut Sri, edukasi kepada masyarakat menjadi faktor penting agar warga dapat mengenali gejala awal Lupus dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

“Penting bagi teman-teman (tenaga kesehatan) melakukan edukasi kepada masyarakat agar masyarakat tahu dan cepat mengakses ke layanan kesehatan,” ujarnya.

Sejumlah studi juga menunjukkan perempuan memiliki risiko lebih tinggi terkena Lupus dibandingkan laki-laki. Risiko pada perempuan bahkan disebut mencapai delapan hingga 13 kali lipat lebih besar.

Karena itu, program skrining yang dijalankan pemerintah saat ini difokuskan pada perempuan usia 18 tahun ke atas. Skrining dilakukan menggunakan kuesioner khusus di FKTP, termasuk Puskesmas melalui Poli Cantin dan Poli Penyakit Tidak Menular (PTM).

Hingga April 2026, Dinkes DKI Jakarta mencatat sebanyak 943 orang telah menjalani skrining Lupus di Puskesmas. Dari jumlah tersebut, sekitar 22,4 persen terindikasi mengidap Lupus dan telah dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan serta penanganan lanjutan.

Dinkes DKI Jakarta berharap seluruh FKTP, tidak hanya Puskesmas, dapat memperkuat deteksi dini secara lebih terarah dan efektif guna mencegah kondisi pasien memburuk sebelum mendapatkan penanganan di rumah sakit.

“Dengan penemuan kasus secara dini, diharapkan kondisi pasien tidak menjadi lebih parah saat dirujuk ke rumah sakit,” tutupnya.

Baca Juga

OJK Ungkap Kunci Industri Asuransi Tetap Sehat, IFG Life Jadi Sorotan

Jakarta - IFG Life  memperkuat bisnis secara bertahap melalui...

Viral Kode 09 Meteran PLN Bisa Bongkar Alat Paling Boros, Benarkah?

Jakarta - Media sosial ramai membahas klaim bahwa meteran...

Antisipasi El Nino dan Geopolitik, Dharma Jaya Gaspol Impor 7.500 Sapi

Jakarta - Guna menjaga ketahanan pangan di Jakarta, Perumda...

Hore, Warga Miangas Dapat Ponsel Gratis dan Perangkat Internet Starlink

Sulawesi - Pemerintah terus mempercepat pemerataan akses digital di...

Nasib Guru Non-ASN Terjawab, Surat Edaran Jadi Angin Segar untuk Daerah

Jakarta - Terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini