28.3 C
Jakarta
Selasa, Oktober 27, 2026
BerandaKATA EKBISENERGIPertamax Naik Tajam, Ekonom Sebut Konsumen Sangat Mungkin Pindah ke Pertalite

Pertamax Naik Tajam, Ekonom Sebut Konsumen Sangat Mungkin Pindah ke Pertalite

Jakarta – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, mengingatkan adanya potensi pergeseran konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dari Pertamax ke Pertalite menyusul melebarnya selisih harga antara kedua produk tersebut.

Menurut Faisal, kenaikan harga Pertamax yang cukup signifikan dapat mendorong sebagian konsumen untuk mencari alternatif bahan bakar yang lebih murah guna menekan pengeluaran.

“Sangat mungkin dengan kenaikan yang begitu besar, banyak pelaku atau konsumen yang beralih ke Pertalite,” ungkap Faisal kepada Beritasatu.com.

Meski demikian, ia menilai perpindahan konsumsi dari BBM nonsubsidi ke BBM bersubsidi tidak dapat dilakukan secara bebas. Pasalnya, pemerintah telah menerapkan berbagai mekanisme pengendalian terhadap distribusi dan penggunaan BBM subsidi maupun BBM penugasan.

Faisal menjelaskan bahwa adanya pembatasan kuota dan pengawasan distribusi membuat peluang masyarakat untuk beralih ke jenis BBM yang lebih murah menjadi terbatas.

“Peralihan konsumen ke kelas BBM yang lebih rendah saat ini tidak mudah dilakukan karena ada kontrol penggunaan, kuota, dan pembatasan suplai,” ujarnya dikutip dari laman berita satu.

Kenaikan harga Pertamax yang melonjak dari kisaran Rp12.000 menjadi sekitar Rp16.000 per liter mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk para ekonom. Lonjakan harga dalam satu kali penyesuaian dinilai berpotensi menimbulkan tekanan bagi konsumen.

Menurut Faisal, besarnya kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari tertundanya penyesuaian harga selama beberapa waktu terakhir. Akibat penundaan tersebut, koreksi harga yang dilakukan menjadi jauh lebih besar ketika akhirnya diterapkan.

“Mungkin karena juga ditunda, sehingga kenaikan harganya, lonjakannya cukup besar. Nah, itu yang mungkin saya sayangkan,” ungkap Faisal.

Ia berpendapat dampak terhadap masyarakat sebenarnya dapat diminimalkan apabila penyesuaian harga dilakukan secara bertahap sejak awal. Dengan kenaikan yang lebih terukur, masyarakat memiliki waktu untuk menyesuaikan pola konsumsi dan pengeluarannya.

Faisal menambahkan, semakin lama penyesuaian harga ditunda, semakin besar pula selisih harga yang harus dikoreksi pada saat kebijakan diterapkan. Kondisi inilah yang kemudian memicu lonjakan harga Pertamax dalam jumlah signifikan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi masyarakat, tetapi juga dapat memengaruhi berbagai sektor ekonomi lainnya. Meningkatnya biaya energi berpotensi mendorong kenaikan ongkos distribusi barang dan jasa yang pada akhirnya berkontribusi terhadap inflasi.

“Itu dampaknya terhadap inflasi dan terhadap konsumen menjadi sangat besar karena menciptakan satu guncangan,” pungkasnya.

Baca Juga

Olahraga demi Kesehatan atau Cuma Cari Validasi di Media Sosial?

katafoto, Jakarta - Olahraga kini semakin lekat dengan budaya...

Pengangguran Masih 7,2 Juta Orang, Bursa Kerja Jakarta Tawarkan 12.000 Lowongan

katafoto, Jakarta - Sebanyak 12.000 lowongan kerja ditawarkan dalam...

Perusahaan Kesulitan Lapor WLKP Online? Kemnaker Siapkan 3 Solusi Ini

katafoto, Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) membuka tiga jalur...

Lindungi Warga dan Ekosistem Laut, Kepulauan Seribu Dipasang 30 Ring Buoy

katafoto, Jakarta - Upaya meningkatkan keselamatan warga di wilayah...

Indonesia dan Malaysia Kompak Batasi Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun

katafoto, Bali - Perlindungan anak dari risiko dunia digital...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini