28.8 C
Jakarta
Selasa, Maret 10, 2026
BerandaKATA EKBISKEUANGANRealisasi APBN Februari 2025, Sri Mulyani Ungkap Pendapatan dan Defisit Anggaran

Realisasi APBN Februari 2025, Sri Mulyani Ungkap Pendapatan dan Defisit Anggaran

Jakarta – Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, realisasi postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Februari 2025 tetap selaras dengan target yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 62 Tahun 2024. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTa, yang digelar pada Kamis (13/3) di Kementerian Keuangan, Jakarta.

Menteri Keuangan memaparkan bahwa hingga akhir Februari 2025, realisasi pendapatan negara mencapai Rp316,9 triliun, atau 10,5% dari target APBN tahun ini. Dari jumlah tersebut, penerimaan perpajakan menyumbang Rp240,4 triliun atau 9,7% dari target, yang terdiri dari:

  • Penerimaan pajak sebesar Rp187,8 triliun (8,6% dari target).
  • Penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp52,6 triliun (17,5% dari target).

Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) telah mencapai Rp76,4 triliun, atau 14,9% dari target APBN.

Sri Mulyani menjelaskan bahwa tren realisasi pendapatan negara pada Januari dan Februari memang cenderung mengalami penurunan setiap tahunnya. “Kami melihat adanya perlambatan akibat koreksi harga komoditas yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian kita, seperti batu bara, minyak, dan nikel,” ungkapnya.

Selain itu, penerapan kebijakan Tarif Efektif Rata-rata (TER) juga berpengaruh terhadap pergeseran penerimaan negara, khususnya pada Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21. Faktor lain yang turut menyebabkan penurunan penerimaan adalah restitusi pajak yang cukup signifikan pada awal 2025. Meski demikian, pemerintah akan terus mengoptimalkan pencapaian melalui berbagai inisiatif strategis dan perbaikan sistem administrasi perpajakan.

Dari sisi pengeluaran, realisasi belanja negara hingga akhir Februari 2025 mencapai Rp348,1 triliun, atau 9,6% dari total pagu anggaran tahun ini. Rincian belanja negara meliputi:

  • Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp211,5 triliun (7,8% dari target), terdiri dari:
    • Belanja Kementerian/Lembaga (K/L): Rp83,6 triliun (7,2% dari target).
    • Belanja Non-K/L: Rp127,9 triliun (8,3% dari target).
  • Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp136,6 triliun (14,9% dari target), mencatatkan realisasi yang cukup tinggi.

Lebih lanjut, Menteri Keuangan juga mengungkapkan bahwa keseimbangan primer masih mencatatkan surplus Rp48,1 triliun, sementara defisit anggaran berada pada angka Rp31,2 triliun, atau 0,13% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari sisi pembiayaan, realisasi pembiayaan anggaran mencapai Rp220,1 triliun. Sri Mulyani menegaskan bahwa APBN telah dirancang dengan defisit sebesar Rp616,2 triliun, setara dengan 2,53% dari PDB, sehingga angka defisit yang saat ini tercatat masih berada dalam batas yang telah ditentukan.

“Saya ingin mengingatkan bahwa APBN kita didesain dengan defisit sebesar Rp616,2 triliun, sehingga posisi defisit saat ini, yang baru 0,13% dari PDB, masih sejalan dengan desain awal sebesar 2,53% dari PDB,” tutup Sri Mulyani.

Baca Juga

Batu Bara Dongkrak Ekspor, Aceh Raih Surplus Perdagangan

Aceh - Neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada...

Jawa Tengah Siap Sambut 17 Juta Lebih Pemudik, Ribuan Personel Disiagakan

Semarang - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyatakan kesiapan untuk...

Governance Reset BUMN Jadi Sorotan, Langkah Baru Dorong Hilirisasi dan Investasi

Jakarta - Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara...

Siap Mudik Lewat Laut? 841 Kapal Disiagakan untuk Lebaran 2026

Jakarta - Kementerian Perhubungan menyiapkan sebanyak 841 kapal dengan...

Jakarta Perkuat Identitas Budaya, 10 Warisan Takbenda Baru Resmi Ditetapkan

Jakarta - DKI Jakarta kini tercatat memiliki 95 Warisan...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini