33.2 C
Jakarta
Minggu, April 26, 2026
BerandaKATA EKBISAGRIBISNISKejar Produksi Nasional, Jawa Timur Gas Tanam Padi Serentak

Kejar Produksi Nasional, Jawa Timur Gas Tanam Padi Serentak

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pelaksanaan tanam padi serentak di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur sebagai langkah strategis untuk menjaga produksi pangan nasional, khususnya di awal musim kemarau.

Upaya ini difokuskan pada peningkatan luas tambah tanam (LTT) secara signifikan agar ketersediaan pangan tetap aman sekaligus mendukung target swasembada pangan yang berkelanjutan.

Dalam gerakan tersebut, ditargetkan kenaikan LTT mencapai 3,4% dalam satu hari—atau dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya—sebagai bagian dari akselerasi produksi di tengah potensi tekanan iklim.

Kegiatan ini dipusatkan di Kabupaten Ngawi dan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT) bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gerakan ini mengusung tema “Sawah Bersholawat Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan”.

Langkah percepatan tanam tersebut juga menjaga tren positif sektor pertanian. Data menunjukkan bahwa luas tanam periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 meningkat 9,7%, sementara produksi beras tumbuh lebih dari 2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BBPOPT sekaligus Penanggung Jawab Swasembada Pangan Berkelanjutan (SPB) Jawa Timur, Yuris Tiyanto, menegaskan percepatan tanam harus menjadi gerakan bersama yang terukur.

“Melalui gerakan hari ini diharapkan kenaikan LTT bisa mencapai 3,4% dalam satu hari atau dua kali lipat dari hari sebelumnya. Ini bukan seremonial, tetapi gerakan yang harus berdampak nyata,” tegas Yuris dalam siaran pers yang diterima pada Jumat (24/4/2026).

Ia menambahkan, “Kegiatan ini kita dedikasikan untuk menuju Jawa Timur yang makmur. Kita tidak hanya ingin tampil menjadi nomor satu, tetapi harus diiringi dengan peningkatan hasil. Jawa Timur harus selangkah lebih maju. Untuk itu kita harus berjamaah, tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Sinergi lintas instansi mutlak diperlukan.” ujarnya.

Untuk mempercepat realisasi, sejumlah langkah strategis terus diperkuat, mulai dari percepatan olah tanah, optimalisasi sistem irigasi dan pompa air, hingga peningkatan koordinasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah daerah, TNI, penyuluh, dan petani.

Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) juga menjadi fokus penting melalui pemanfaatan teknologi digital seperti sistem SIFORTUNA yang dikembangkan BBPOPT. Saat ini, SIFORTUNA telah terintegrasi dalam dashboard Operation Room dan dimanfaatkan oleh Kantor Staf Presiden (KSP) untuk menyampaikan informasi pengamanan produksi kepada Presiden Republik Indonesia.

“Melalui teknologi ini, potensi serangan OPT dapat diprediksi lebih dini sehingga langkah pengendalian bisa dilakukan secara cepat dan tepat,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur yang diwakili oleh Kabid Tanaman Pangan, Denny Kurniawan, menekankan pentingnya keserempakan dalam seluruh siklus produksi.

“Tanam serentak harus diikuti panen serentak. Kita menghadapi tantangan besar El Nino, namun alhamdulillah Jawa Timur selama enam tahun terakhir tetap menjadi nomor satu nasional,” ucapnya.

Di tingkat daerah, Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko menyampaikan bahwa kinerja sektor pertanian di wilayahnya terus menunjukkan tren positif. Produksi padi pada 2025 tercatat mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat dari tahun sebelumnya dan menyumbang sekitar 7% terhadap total produksi Jawa Timur.

“Ngawi saat ini menjadi salah satu daerah dengan produktivitas tinggi, bahkan menempati peringkat ketiga produksi padi di Jawa Timur setelah Lamongan dan Bojonegoro,” bebernya.

Ia juga menambahkan berbagai inovasi terus dilakukan, mulai dari pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB), modernisasi irigasi, hingga pemanfaatan teknologi pertanian guna menghadapi perubahan iklim, termasuk potensi El Nino yang diperkirakan terjadi pada pertengahan 2026.

Selain pendekatan teknis, gerakan ini juga diperkuat melalui pendekatan sosial dan spiritual lewat konsep “sawah bersholawat”. Perwakilan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Wilayah Jawa Timur, Yayu, menyebut momentum ini telah lama dinantikan para petani. Mengutip dawuh KH Hasyim, ia menegaskan bahwa petani adalah “gudangnya negara” dan profesi yang sangat mulia.

“Pertanian bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga ramah perempuan. Peran perempuan sangat besar, mulai dari proses tanam hingga menyiapkan kebutuhan keluarga. Mari kita serahkan ikhtiar ini kepada Allah SWT, dan insyaAllah Allah akan membantu kita,” ungkapnya.

Secara nasional, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa swasembada pangan menjadi agenda prioritas yang harus diwujudkan melalui kerja cepat dan terintegrasi.

“Kita harus bergerak cepat, tepat, dan bersama. Swasembada pangan adalah kebutuhan bangsa yang tidak bisa ditunda,” tegasnya.

Baca Juga

Giant Sea Wall Pantura Dipertanyakan, Pakar Ingatkan Risiko Besar

Yogyakarta - Pemerintah saat ini tengah mematangkan rencana pembangunan...

Kemenag Buka Suara, Isu Pengambilalihan Dana Masjid Itu Tidak Benar

Jakarta - Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik (HKP)...

Sekolah Rakyat Butuh 9.000 Tenaga Baru, Kesempatan Emas Jadi Guru

Jakarta - Kementerian Sosial mengusulkan penambahan lebih dari 5.000...

Pengusaha Soroti Dampak Investasi, Lapangan Kerja Justru Menyusut

Jakarta - Kalangan pengusaha menilai rencana pemerintah untuk mengalihkan...

Jakarta Siaga El Nino, Ini 3 Ancaman Serius yang Diwaspadai

Jakarta - Sekretaris Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat,...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini