NTT – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengungkapkan alasan di balik tingginya jumlah warga yang mengungsi setelah gempa mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain merasakan gempa susulan, masyarakat juga dihantui informasi mengenai potensi gempa yang lebih besar hingga tsunami yang beredar di media sosial.
Hal tersebut disampaikan Suharyanto dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Posko Penanganan Bencana, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 834/Wakanga Mere atau Yonif TP 834/WM, Desa Tonggu Rambang, Mbay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, NTT, Rabu (26/8).
Menurut Suharyanto, aktivitas gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan data hingga Selasa (25/8) sore, tercatat 7.259 gempa susulan.
Meski jumlahnya mencapai ribuan, tidak ada lagi gempa susulan dengan kekuatan yang menyamai gempa utama berkekuatan 7,7 magnitudo. Dari seluruh gempa susulan tersebut, sebanyak 143 kejadian dirasakan langsung oleh masyarakat sejak 15 Agustus hingga saat ini.
“Tingginya jumlah gempa susulan tersebut menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat. Kondisi itu kemudian diperparah dengan beredarnya informasi yang menyebutkan akan terjadi gempa susulan dengan kekuatan lebih besar hingga potensi tsunami,” kata Suharyanto.
Warga Mengungsi karena Takut Gempa Susulan
Suharyanto menegaskan, tingginya angka pengungsi tidak seluruhnya disebabkan kerusakan langsung akibat gempa. Kekhawatiran terhadap gempa susulan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong masyarakat meninggalkan rumah mereka.
“Mereka ketakutan dan ada beberapa isu dari media sosial yang menyatakan akan ada gempa susulan lebih besar dan bahkan tsunami,” lanjutnya.
Untuk mencegah kepanikan semakin meluas, BNPB bersama berbagai unsur terkait terus memberikan edukasi kepada masyarakat. Informasi resmi mengenai kondisi gempa disampaikan untuk meluruskan kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah berharap masyarakat dapat mengacu pada informasi dari lembaga resmi sehingga tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang beredar di media sosial.
Tujuh Kabupaten Terdampak
Suharyanto menjelaskan, pusat gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 berada di sebelah utara Kabupaten Nagekeo. Guncangan tersebut dirasakan di tujuh kabupaten, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Ngada, Ende, dan Sikka.
Sementara itu, Kabupaten Flores Timur tidak terdampak oleh gempa tersebut. Namun, wilayah tersebut sebelumnya telah menghadapi bencana erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Dari sejumlah wilayah terdampak gempa, Manggarai dan Manggarai Timur mengalami dampak paling parah. Nagekeo berada di urutan berikutnya dari sisi tingkat kerusakan.
“Yang terparahnya ada dua kabupaten yaitu Manggarai dan Manggarai Timur, tetapi Nagekeo juga cukup parah, kalau diperingkatkan nomor tiga,” tuturnya.
Korban dan Kerusakan Terus Didata
BNPB mencatat dampak bencana tersebut masih cukup besar. Hingga saat ini, sebanyak 105 orang meninggal dunia dan 1.678 orang lainnya mengalami luka-luka.
Jumlah warga yang mengungsi mencapai 179.037 orang. Sementara itu, sebanyak 81.436 rumah dilaporkan mengalami kerusakan berdasarkan data sementara.
Kerusakan juga melanda berbagai fasilitas umum. Sekolah, masjid, kantor pemerintahan, serta sejumlah fasilitas lainnya turut terdampak, dengan total kerusakan sementara mencapai 1.951 unit.
Pemerintah bersama seluruh unsur penanganan bencana masih menjalankan berbagai langkah tanggap darurat. Upaya tersebut mencakup penanganan korban, pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi, serta penyampaian informasi kebencanaan yang akurat agar masyarakat tetap tenang menghadapi potensi gempa susulan.

