Jakarta – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menghadiri peluncuran buku Si Doel Anak Sekolahan, Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono. Acara tersebut berlangsung di PDS HB Jasin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/9).
Menurut Rano, buku tersebut tidak sekadar menceritakan perjalanan lahirnya karakter Si Doel Anak Sekolahan. Buku itu juga mengajak pembaca melihat perubahan sosial serta perkembangan Jakarta dari masa ke masa.
Rano mengatakan, kedekatannya dengan Harry Tjahjono bermula dari hubungan Harry dengan mendiang ayahnya.
“Jadi Harry Tjahjono ini kenal bapak saya dulu daripada sama saya. Begitu saya kenal dengan beliau, ada chemistry,” ujar Rano.
Rano kemudian menceritakan pertemuannya dengan Harry setelah berkunjung ke rumah sang penulis. Dalam kesempatan tersebut, ia mengungkapkan obsesi yang telah dipikirkannya sejak kecil, yakni menghadirkan cerita Si Doel Anak Sekolahan.
Komunikasi yang terjalin di antara keduanya kemudian berkembang. Rano dan Harry disebut memiliki pemahaman yang sama mengenai visi cerita yang ingin mereka bangun.
Rano menjelaskan, cerita Si Doel Anak Sekolahan pada awalnya ditulis oleh almarhumah Ida Farida. Cerita tersebut sebenarnya telah memiliki akhir ketika tokoh utama berhasil menyelesaikan pendidikan dan menjadi insinyur.
Namun, Harry kemudian mengembangkan cerita tersebut dengan menghadirkan berbagai karakter pendukung yang kemudian menjadi bagian penting dari kisah Si Doel. Di antaranya Mas Karyo, Atun, Mandra, Pak Bendot, Nyak Rodiah, Engkong Tile, dan Engkong Ca’ak.
Kolaborasi Rano dan Harry pun terus berkembang hingga cerita Si Doel Anak Sekolahan mencapai 78 episode. Meski demikian, Harry akhirnya memilih mengakhiri kerja sama tersebut setelah menyelesaikan episode keempat karena merasa kelelahan.

Si Doel Gambarkan Kehidupan Kampung Jakarta
Selain menghadirkan karakter yang terinspirasi dari kehidupan masyarakat Jakarta dan Betawi, Rano menilai Si Doel Anak Sekolahan memiliki kekuatan lain, yakni gambaran kehidupan kampung di pinggiran Jakarta.
Menurut Rano, suasana kampung yang natural seperti yang ditampilkan dalam cerita Si Doel kini semakin jarang ditemukan dalam tayangan sinema. Banyak produksi film dan sinema saat ini justru lebih sering menampilkan kehidupan metropolitan.
“Makanya saya bilang, “Mas, yuk kita hidupkan kampung lagi dalam visi yang berbeda. Kami sebagai Pemprov DKI sangat men-support kegiatan ini, apalagi tahun depan Jakarta akan 500 tahun dan kita akan semakin kehilangan kampung,” tegasnya.
Rano menilai, keberadaan kampung menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas Jakarta yang perlu terus dijaga di tengah pesatnya perkembangan kota.
Harry Tjahjono Kenang Kebersamaan dengan Rano
Sementara itu, penulis buku Si Doel Anak Sekolahan, Filosofi Orang Kampung, Harry Tjahjono, mengatakan buku tersebut menjadi catatan mengenai kebersamaannya dengan Rano Karno saat berkecimpung di dunia perfilman pada era 1980-an.
Harry juga mengungkapkan kembali bagaimana obsesi Rano terhadap cerita Si Doel Anak Sekolahan menjadi awal dari perjalanan kreatif mereka.
“Obsesinya yang paling saya ingat adalah, Har, kalau kita tidak bikin Si Doel Anak Sekolahan, maka orang Betawi nanti pada akhirnya akan menjadi tamu di rumahnya sendiri,” tuturnya.
Pertemuan tersebut kemudian berkembang menjadi hubungan kerja sekaligus persahabatan yang sangat erat. Harry mengungkapkan, keduanya bahkan hampir setiap malam menghabiskan waktu bersama untuk mengembangkan berbagai ide kreatif.
Dalam kurun waktu satu tahun, kebersamaan tersebut menghasilkan dua buku yang berkaitan dengan Si Doel Anak Sekolahan.
Tak hanya menulis novel, kolaborasi mereka juga menghasilkan karya musik. Harry menyebut, sekitar 30 lagu lahir dari proses kreatif bersama Rano Karno.
“Saya dulu dengan Bang Rano tuh sangat produktif dan kreatif. Dan itu hanya pikiran dari pikirannya Bang Rano bahwa kalau kita tidak menulis tentang Betawi, maka Betawi akan menjadi tamu di rumahnya sendiri,” tandasnya.
Buku Si Doel Anak Sekolahan, Filosofi Orang Kampung pun menjadi pengingat perjalanan panjang Rano Karno dan Harry Tjahjono dalam mengangkat kehidupan masyarakat Betawi sekaligus merekam perubahan Jakarta melalui karya seni dan cerita populer

