Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa upaya pengendalian banjir di ibu kota tidak dapat dilakukan secara parsial. Ia menilai, penanganan banjir harus terintegrasi, dengan kesiapan infrastruktur pompa sebagai faktor utama di wilayah-wilayah rawan genangan.
“Pengendalian banjir di Jakarta memang tidak bisa dilakukan secara terpisah-pisah,” kata Pramono saat ditemui di Rusunawa Pulo Gebang, Jakarta Timur, Senin (12/1).
Melansir dari laman berita jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini telah menyiapkan sekitar 1.200 unit pompa yang siaga dan siap dioperasikan kapan saja. Selain pompa, Pemprov juga mengandalkan keberadaan waduk sebagai bagian dari sistem pengendali banjir, salah satunya Waduk Cilangkap Batu Licin di Jakarta Timur yang baru diresmikan.
Seluruh infrastruktur tersebut dioperasikan secara terpadu untuk mempercepat surutnya genangan selama musim hujan, termasuk di kawasan rawan seperti Ancol, Jakarta Utara.
“Dengan intensitas hujan seperti sekarang, sebelumnya genangan pasti terjadi di banyak titik. Sekarang, karena pompa selalu disiagakan, ketika ada kenaikan air seperti di Ancol, langsung bisa ditangani,” ujarnya.
Pramono menambahkan, strategi pengendalian banjir yang diterapkan Pemprov DKI saat ini difokuskan pada langkah jangka pendek dan menengah.
“Penanganan yang kita lakukan memang difokuskan pada solusi jangka pendek dan menengah. Untuk jangka panjang, tentu membutuhkan waktu dan perencanaan yang lebih kompleks,” pungkasnya.

