32.3 C
Jakarta
Rabu, Juli 22, 2026
BerandaKATA BERITANASIONALHanya 10 Persen Terdeteksi, Menkes Soroti Rendahnya Skrining Hepatitis

Hanya 10 Persen Terdeteksi, Menkes Soroti Rendahnya Skrining Hepatitis

Jakarta – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti masih lebarnya kesenjangan penanganan penyakit hati kronis di Indonesia dibandingkan target yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kesenjangan tersebut terutama terlihat pada aspek deteksi dini dan akses masyarakat terhadap pengobatan.

WHO menargetkan 90 persen penderita hepatitis dapat teridentifikasi melalui skrining, sementara 80 persen di antaranya memperoleh penanganan medis yang memadai. Namun, capaian Indonesia hingga saat ini masih jauh dari sasaran tersebut.

Dalam dialog kesehatan bertajuk Solid Habit Strong Liver di Jakarta, Selasa (2/6), Budi mengungkapkan bahwa cakupan skrining hepatitis di Indonesia baru berada di kisaran 10 persen. Sementara itu, jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan masih berkisar antara 1 hingga 5 persen.

“Gap-nya masih sangat besar,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan besar mengingat jumlah penduduk yang diperkirakan terpapar hepatitis di Indonesia mencapai sekitar 70 juta orang. Rendahnya angka klaim layanan kesehatan juga mengindikasikan masih banyak kasus yang belum terdeteksi oleh sistem kesehatan nasional.

Sejumlah program telah dijalankan, termasuk pemberian vaksin Hepatitis B bagi tenaga kesehatan sejak 2023. Selain itu, sejak 2024 pemerintah memberikan terapi profilaksis kepada ibu hamil melalui antivirus Tenofovir (TDF) guna mencegah penularan hepatitis dari ibu ke bayi.

Pemerintah juga memperluas Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025 untuk meningkatkan cakupan skrining nasional. Budi mengatakan, target skrining pada 2026 mencapai 136 juta penduduk.

“Pada 2026, pemerintah menargetkan skrining menjangkau hingga 136 juta penduduk, mencakup pemeriksaan HBsAg serta deteksi dini fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis tes darah,” ungkapnya.

Langkah pencegahan lainnya dilakukan melalui kebijakan pelabelan gizi pada produk pangan. Kebijakan ini bertujuan mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) yang menjadi salah satu faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik.

Secara global, penyakit hati kronis masih menjadi masalah kesehatan serius. Lebih dari 300 juta orang di dunia hidup dengan penyakit ini, sementara angka kematiannya mencapai sekitar 2 juta jiwa setiap tahun atau hampir empat kematian setiap menit.

Budi menegaskan pentingnya deteksi dini karena penyakit hati berkembang secara bertahap, mulai dari peradangan, fibrosis, sirosis, hingga kanker hati. Karena itu, peningkatan skrining menjadi langkah krusial untuk menghentikan perkembangan penyakit sejak fase awal.

“Dengan mempercepat deteksi dan pencegahan, kita bisa meningkatkan kualitas hidup dan angka harapan hidup masyarakat yang saat ini rata-rata sekitar 74 tahun,” ujarnya.

Baca Juga

Range Rover Sport Electric Segera Meluncur, Tenaganya Diklaim Lebih Buas dari Sebelumnya

Range Rover bersiap menghadirkan penyegaran untuk Range Rover Sport...

CL CUP 3×3 Basketball 2026 Ramaikan Mal Ciputra Jakarta, Ini Keseruannya

Jakarta - Mal Ciputra Jakarta kembali menggelar ajang olahraga...

Becak Listrik Meluncur di Yogyakarta, Menkeu Sebut Tradisi dan Teknologi Bisa Berjalan Bersama

Yogyakarta - Pemerintah terus mendorong penguatan ekonomi kerakyatan melalui...

Kemendag Buka Suara! Urus NIB Ternyata Tidak Ada Kaitannya dengan Pajak

Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) memastikan kewajiban memiliki Nomor...

Dokter UGM Ungkap Manfaat Angkat Beban untuk Jantung dan Otak

Jakarta – Olahraga kardio seperti lari, berjalan kaki, bersepeda,...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini