27.1 C
Jakarta
Rabu, September 9, 2026
BerandaKATA BERITANASIONALMasa Depan Media Mainstream di Era Digital: Tantangan atau Peluang?

Masa Depan Media Mainstream di Era Digital: Tantangan atau Peluang?

Jakarta – Di era digital saat ini, siapa pun bisa menjadi penyebar informasi. Cukup dengan membuat kanal media sendiri, konten bisa menjangkau publik luas tanpa harus melewati proses verifikasi ketat atau memegang lisensi resmi. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: apakah media mainstream sedang tersingkir oleh gelombang digital, ataukah ini hanya fase tantangan dalam siklus industri?

Meski ada gejala penurunan, tak semua pihak sepakat bahwa media arus utama tengah menuju senja. Salah satunya adalah Ignatius Haryanto, pengamat media sekaligus akademisi dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Dalam wawancara bersama Investor Daily Talk, Haryanto menyatakan bahwa industri media masih punya peluang untuk bertahan—asal ada komitmen kuat untuk berbenah.

“Fenomena sunset industry itu memang nyata, tapi bukan berarti tidak bisa dihadapi. Perlu ada langkah-langkah terobosan agar media tetap relevan,” ujarnya.

Merger dan Kolaborasi Jadi Kunci Bertahan

Haryanto menyarankan agar para pelaku industri media mempertimbangkan konsolidasi sebagai strategi bertahan, terutama bagi stasiun televisi yang mulai kehilangan daya saing.

“Daripada terus merugi, kenapa tidak ada merger antar stasiun TV yang performanya menurun?” katanya.

Ia meyakini, dengan menggabungkan kekuatan, potensi yang tersisa bisa dimaksimalkan untuk membangun ekosistem media yang lebih solid dan berkelanjutan.

Potensi Media Lokal Perlu Diangkat

Tak hanya fokus pada media besar di Jakarta, Haryanto menyoroti pentingnya membuka ruang bagi pertumbuhan media lokal. Menurutnya, daerah memiliki potensi yang luar biasa, baik dari sisi sumber daya maupun kreativitas pelaku medianya.

“Media di daerah perlu diberi kesempatan lebih untuk berkembang. Jangan semuanya Jakarta-sentris,” tambahnya.

Dengan memperluas dukungan ke daerah, revitalisasi media nasional bisa lebih merata dan berkelanjutan.

Optimisme Melawan Narasi Kiamat Media

Bagi Haryanto, menyebut media mainstream sebagai “sunset industry” secara mutlak adalah pendekatan yang keliru. Justru, narasi ini seharusnya menjadi pemicu untuk melakukan perubahan mendasar: berinovasi, berkolaborasi, dan membenahi struktur industri.

Selama ada kemauan untuk berubah dan beradaptasi, masa depan media arus utama masih bisa diselamatkan.

Baca Juga

Sudaryono Ambil Tindakan Tegas, 1.999 Dapur MBG Ditutup

Jakarta - Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas...

Karhutla Bisa Gerus Ekonomi hingga Rp123,1 Triliun

katafoto.id, Jakarta  - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang...

Pisang Cavendish Lumajang Bidik Pasar Hong Kong dan Malaysia

katafoto.id, Lumajang - Pisang Cavendish dari Kabupaten Lumajang, Jawa...

Pune Jadi Ladang Baru Pariwisata Indonesia, Transaksi Rp12,8 Miliar Berhasil Dibidik

Jakarta - Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mencatat potensi transaksi senilai...

Terendus dari Media Sosial, Patroli Siber Bongkar Jual Beli 7 Burung Langka di Papua

Jakarta - Tim patroli siber Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkap...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini