27.3 C
Jakarta
Jumat, Juli 31, 2026
BerandaKATA BERITANASIONALDana Abadi Jurnalisme: Solusi Krisis Media dan Kesejahteraan Jurnalis

Dana Abadi Jurnalisme: Solusi Krisis Media dan Kesejahteraan Jurnalis

Jakarta – Ketua Dewan Pers, Ninik Rahayu, menyatakan dukungannya terhadap wacana pembentukan public endowment fund atau dana abadi untuk mendukung jurnalisme. Inisiatif yang diusulkan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) ini bertujuan untuk menunjang kualitas jurnalistik serta menjamin keberlangsungan usaha media di tengah tantangan industri.

“Dana ini ditujukan untuk mendukung para jurnalis dan keberlangsungan media, bukan semata untuk individu saja,” ujar Ninik saat menghadiri seminar nasional mengenai keberlanjutan media yang digelar di Jakarta Pusat, Sabtu (3/5).

Meski masih dalam tahap konsep, Ninik menilai bahwa dana tersebut dapat dihimpun dari berbagai sumber, mulai dari alokasi pemerintah, kontribusi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga donasi publik. Ia menekankan bahwa skema seperti ini berpotensi menjadi penyelamat media yang menghadapi kesulitan finansial.

“Pendanaannya bisa bersumber dari pemerintah, CSR, atau dukungan masyarakat yang peduli terhadap eksistensi media yang tengah terpuruk,” jelasnya dikutip dalam laman berita satu.

Dana Abadi Jurnalisme: Solusi Krisis Media dan Kesejahteraan Jurnalis
Ketua Dewan Pers Ninik Rahayu saat memberikan sambutan di Jakarta. Dewan Pers sepakat dengan usulan Public Endowment Fund (dana abadi) dari pemerintah untuk mendukung jurnalisme berkualitas dan kesejahteraan media. (katafoto/HO/Beritasatu/Muhammad Farhan)

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, turut menyoroti krisis yang melanda industri pers, yang memaksa banyak media melakukan efisiensi hingga merumahkan karyawan. Ia menyambut positif ide dana abadi jurnalisme sebagai langkah strategis jangka panjang untuk memperkuat kualitas pers dan menjamin kelangsungan bisnis media.

“Saya sangat mendukung pembentukan dana abadi guna menopang jurnalisme yang berkualitas. Namun, kita perlu cermati model implementasinya agar tetap sejalan dengan Undang-Undang Pers,” jelas Nezar.

Nezar bahkan membuka kemungkinan untuk merevisi regulasi yang ada agar pemerintah dapat secara legal mendukung pendanaan terhadap sektor jurnalisme melalui mekanisme tersebut.

“Bisa saja Undang-Undang Pers direvisi agar mengakomodasi mandat bagi pemerintah untuk mendirikan atau mendukung dana abadi untuk jurnalisme,” lanjutnya.

Ia juga menekankan pentingnya prinsip keadilan dalam mekanisme distribusi dana, agar pendanaan dapat digunakan secara efisien dan merata bagi media yang memang layak menerima.

“Jika dana harus dibagi ke ribuan media, tentu kita perlu perhitungan yang matang—berapa besar dana dibutuhkan dan bagaimana regulasinya agar adil dan tepat sasaran,” pungkas Nezar.

Baca Juga

Rumah Pilah Pluit Sulap Sampah Organik Jadi Pupuk, Warga Bisa Dapat Gratis

Jakarta - Pemerintah Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara,...

PPATK Bekukan 5.762 Rekening Judi Online, Nilainya Tembus Rp1,07 Triliun

Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)...

Tak Sekadar Susu, Begini Cara Wyeth Nutrition Bantu Orang Tua Maksimalkan Potensi Anak

Jakarta - Wyeth Nutrition kembali menghadirkan program edukasi S-26...

Kinerja PGE Makin Moncer, Target Kapasitas 1,8 GW Dipacu hingga 2033

Jakarta - PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mencatatkan...

Pernyataan ‘Londo Ireng’ Picu Protes, Insan Pers Malang Tuntut Permintaan Maaf Presiden

Malang - Jurnalis dari berbagai organisasi pers di Malang...

Ikuti kami

- Notifikasi berita terupdate

Terkini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini